DAKWAH MULITKULTURAL LINTAS BUDAYA
MINI BOOK
Dosen Pengampu : Abu Amar Bustomi, M.Si
Abu Amar Bustomi, M.Si
Nama : Muhammad Nasrul Hidayat
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb.
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam. Atas izin dan
karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah tepat waktu tanpa kurang suatu
apa pun. Tak lupa pula penulis haturkan shalawat serta salam kepada junjungan
Rasulullah Muhammad SAW. Semoga syafaatnya mengalir pada kita di hari akhir
kelak.
Penulisan
minibook berjudul Dakwah Multi kultural Lintas Budaya, bertujuan
untuk memenuhi tugas mata kuliah DMKLB
Akhirul
kalam, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Besar
harapan penulis agar pembaca berkenan memberikan umpan balik berupa kritik dan
saran. Semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Aamiin.
Wassalamualaikum
wr.wb
Kediri, 27 Juni
2021
Daftar Isi
I. Pengertian dan Ruang Lingkup DMKLB
II. Basis dan pendekatan dalam Dakwah Multikulturan
III. Tujuan, fungsi & peranan dakwah
dalam komunikasi antar budaya
IV. Dakwah dalam
Komunikasi antar etnik, ras dan bangsa
V. Dakwah Dalam kajian Pola Komunikasi
Lintas Budaya
VI. Mengenal Unsur-Unsur Komunikasi Lintas Budaya Dalam
Berdakwah
VII. Komunikasi Verbal dan non Verbal
VIII. Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah
Multikultural Moderen.
IX. Budaya dan Kearifan Dakwah
PEMBAHASAN
I.
Pengertian dan Ruang
Lingkup DMKLB
Ruang lingkup antar
budaya tidak jauh seperti ruang lingkup dakwah aan tetapi ada penambahan atau
perlebihan dibagian-bagiannya. Seperti yang telah di bahas bahwa ruang lingkup
dakwah antar budaya terbagi menjadi dua yaitu secara illegal dan budaya. Akan
tetapi yang akan saya bahas hanya sebagian daripada itu. Ruang
lingkup antar budaya sangatlah luas akan tetapi tidak lepas dari hukum
(syara’). العدت ة وامحكمة “
yang tidak bertentangan dengan adat”. Karena setiap orang, setiap
tempat wilayah dan lingkungan mempunyai kondisi sosial
Masykurotus Syarifah – Budaya dan
Kearifan Dakwah budaya yang berbeda-beda. Maka dalam pendekatannya pun
berbeda pula. Kajian dakwah antar budaya memiliki ruang lingkup kajian ilmu
dakwah yang meliputi:
1. Mengkaji
dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’i dengan
mad’u yang berbeda latarbelakang
budaya yang dimilikinya dalam perjalanan dakwah para da’i.
2. Menelaah
unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan
unsur da’i, materi, metode, media,
mad’u dan dimensi ruang dan waktu
dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah.
3. Mengkaji
tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i
maupun yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi.
4. Mengkaji
tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnis.
5. Mengkaji
problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi
yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing
(Aripudin, 2012. (55-56).
Kegiatan dakwah di masyarakat, dan di
media Massa selama ini, relatif telah responsif, terhadap kondisi masyarakat
yang modern. Setidaknya telah berupaya agar pesan-pesan keagamaan yang
disampaikan bisa diterima secara baik. Mereka biasa menggunakan berbagai metode
dalam berdakwah. Namun masih menjadi pertanyaan besar: apakah substansi dakwah
telah menyesuaikan dengan kemajemukan dan atau keperbedaan kultur di
masyarakat;
Apakah kebijakan dakwah multikultur
telah terformulasi dengan baik. Demikian juga para da’i sebagai narasumber atau
aktor, supaya mempunyai kemampuan meramu kemajemukan tersebut dengan
memperhatikan; isi atau pesan-pesan yang disampaikan, metode penyampaian,
narasumber atau da’i yang berperan serta media yang digunakan.
Akan tetapi hal itu tidak lepas dari
tujuan dakwah sendiri seperti yang tertera dari landasan Al-Quran itu sendiri:
۞ وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا
كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ
لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا
إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu
pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan
di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang
agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali
kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Oleh karena itu dakwah antar budaya
mempunyai ruang lingkup yang di batasi untuk melakukannya.
II.
Basis dan pendekatan dalam
Dakwah Multikulturan
Basis
dan pendekatan merupakan 2 hal yang tidak dapat di pisahkan dalam dakwah
multikultural, mengapa demikian sebab dari keduanya saling mengandung
keterkaitan satu sama lain. multikultural merujuk kepada konsep kebinekaan yang
bersifat multi dimensi yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku,
etnis, bangsa, dan agama. Bisa kita lihat multikultural merupakan kehendak dan
Sunnatullah bagi kehidupan manusia. Kita dapat melihat dalam
QS. Al-Hujarat: 13
“Hai manusia!
Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah
ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui,
lagi Maha Mengenal”.
Penggalan
pertama ayat di atas sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan adalah pengantar untuk menegaskan bahwa semua manusia
derajat kemanusiaannya sama di sisi Allah, tidak ada perbedaan antara satu suku
dengan yang lain. Allah Swt menciptakan mahluknya ( manusia ) berbeda beda
saku, ras dan bangsanya supaya setiap mahluknya bisa saling mengenal satu sama
lain.
Pendekatan
dakwah multikultural
Secara
singkat pendekatan dakwah merupakan titik tolak ukur pandang dalam dakwah. Pada
umumnya, penentuan pendekatan dakwah didasarkan pada mitra dakwah dan suasana
yang melingupinya. Dalam bahasa lain, pendekatan dakwah harus tertumpu pada pandangan
human oriented, dengan menempatkan pandangan yang mulia atas diri manusia
sebagai mitra dakwah.
Lantas bagaimana dalam menerpkan sebuah dakwah multikultural
ini.? Perlukah secara paksaan? Pendekatan dalam sebuah dakwah multukultural
sangat di larang keras menggunakan sebuah kekerasan, sebab dalam dakwah
multikulutaral sangat mengedapankan sebuah toleransi, selain itu dalam
pengertian dakwah sendiri memounyai pengertian mengajak secara persuasif atau
bisa di sebut juga dengan ajakan secara lemah lembuh tanpa ada sebuah paskaan
dalam sebuah dakwah
Berdakwah secara multikultural berarti suatu upaya menciptakan
keharmonisan di tengah-tengah masyarakat yang beragam, namun tetap mampu
mengendalikan diri dan bertoleransi terhadap segala bentuk perbedaan yang tidak
mungkin disetarakan dapat juga dipahami bahwa
perbedaan manusia yang diterima tanpa menimbulkan perselisihan merupakan rahmat
Allah yang membawa kebahagiaan, sedangkan yang diterima dengan permusuhan dan
perselisihan akan menjadi pangkal kesengsaraan. Kesediaan menerima perbedaan
dengan rahmat Allah itu juga merupakan pangkal persaudaraan dan persatuan.21
Dari sini, ketika terjadi perbedaan dan ketegangan diantara sesama umat
manusia, harus dilakukan dialog untuk mencari kebenaran universal yang memiliki
tujuan antara lain:
1. Untuk saling
mengenal (al-ta’aruf)
2. Untuk saling
mengerti (al-tafahum)
3. Untuk saling
mengasihi (al-tarahum)
4. Untuk membangun
solidaritas (al-tadhamun)
5. Untuk hidup
bersama secara damai (al-ta’ayusy al-silmi).
Di dalam dakwah
multukultural setidaknya harus ada lima macam pendekatan :
- menekankan agar target
dakwah lebih diarahkan pada pemberdayaan kualitas umat dalam ranah
internal, dan kerja sama serta dialog antar-agama dan budaya dalam ranah
eksternal
- ranah kebijakan publik
dan politik, dakwah multikultural menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak
warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok minoritas. Tujuan
dari program dakwah ini, terutama dimaksudkan agar seluruh kelompok etnis
dan keyakinan mendapat pengakuan legal dari negara dari satu aspek, dan
bebasnya penindasan atas nama dominasi mayoritas dari aspek yang lain.
- dalam ranah sosial,
dakwah multikultural memilih untuk mengambil pendekatan kultural ketimbang
harakah (salafi jahidy). Seperti telah disinggung, bahwa pendekatan
multikultural sejatinya merupakan kelanjutan dari pendekatan dakwah
kultural dengan perbedaan pada tingkat keragaman dan pluralitasnya.
- konteks pergaulan global,
dakwah multikultural menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan
(intercultur-faith understanding). Dalam merespons fenomena globalisasi
yang sedikit demi sedikit menghapus sekat-sekat antar-budaya dan agama
sekarang ini, dakwah multikultural, seperti diusulkan Mulkan, merasa perlu
membangun “etika global” yang digali dari sumber etika kemanusiaan
universal yang terdapat dalam seluruh ajaran agama
- terkait dengan program
seperti ini dalam poin keempat, para penggagas dakwah multikultural,
merasa perlu untuk menyegarkan kembali pehamaman doktrindoktrin Islam
klasik, dengan cara melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham Islam,
sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural.
Kesimpulannya
Kita
bisa mengambil pont penting dalam sebuah kesimpulan, bahwa dalam sebuah dakwah
multikultural semua nya mengacu pada uapaya untuk menicptakan sebuah
keharmonisan di tengah tengah keberagaman suku dan budaya, selain itu dalam
basis dakwah multikultural juga sangat berguna untuk mengendalikan diri dan
bertolerenasi terhadap segala bentuk perbedaa dalam masyarakat.
Dalam
pendekatan dakwah multukultural tidak lepas dari yang namanya pesan pesan,
karena dalam konteks hal ini dakwah merupakan untuk agama islam jadi dalam
sebuha pendekatan, mengedapankan sebuah pesan pesan yang mengajak untuk memeluk
islam. Selain itu dalam pendekatan terhadap rasa suku dan budaya yenag berbeda
bisa di lakuakn dengan menggunakan pendekatan berdialaog guna mencari titik
tengah atau sebuh kesepakatan,
Dalam
ranah basis dakwah multukultural sendiri dalam kitab suci Al Qur’an sudah di
sebutkan yang menegaskan bahawa fakta multikultural umat manusia yang bergam
dan berbeda satu sama lain merupakan sebuha kehendak Allah sekaligus sunnatullah.
III.
Tujuan, fungsi & peranan dakwah dalam komunikasi antar budaya
Di lihat dari berbagai aspek nya kita bisa melihat bahwa komunikasi
antar budaya mendorong terselenggaranya da
kwah islam dengan mengunakan pendekatan berbagai komunikasi. Selain
itu pudarnya nilai – nilai Islam dari berbagai faktor seperti teknologi,
ekonomi bahkan poltik pun dapat di atasi dengan adanya dakwah Islam. Di samping
itu prospek islam akan mengadapi tatanan hal baik dari sisiekonomis, sain, dan
teknologi dan etis-religius.dalam linta antar budaya kita dapat menemukan
pengelaman cultur shok yang di mana orang akan mearasa kaget
terhadap kebiasan budaya yang berbeda, seperti halnya ketika kita pergi ke
pantai amerika yang dimana kebiasaan orang amerika hanya menggunkann bikin,
beda hal nya dengan di Indonesia. Begitu juga sebaliknya dengan agama
Dalam
komunikasi dakwah sendiri merupakan komunikasi pesan yang berisi sebuah ajakan
kepada jalan yang benar khusunya agama Islam. Dalam kegiatan dakwah tidak dapat
di pisahkan di yang namanya sebuah komunikasi baik persolan maupun lain
sebagainya, baik dari kalangn muslim maupun kalangan non-muslim. Oleh sebab itu
dakwah dalam komunikasi anatar budaya mempunyai peran penting serta tujuan dan
fungsi yang jelas. Fungsi, Peran dan tujuan tersebut anata lain :
Tujuan dakwah dalam komunikasi antar budaya anatara lain gar Islam lebih fleksibel dan mudah di terima oleh
berbagai kalangan dalam berbagai hal. Islam yang kaku atau hanya terpaku hanya
dalam satu pandangan akan sulit untuk di terima oleh masyarakat, misalnya saja,
ada sekelompok organisasi yang merasa paling benar, sempurna. Ketika mendapati
organisasi lain yang berbeda prespektif, kemudian mengolok” nya dan lain
sebagai nya. Selain itu fungsi dari dakwah antar budaya yakni :
- · Mengenalkan
nilai niali ajaran Islam kepada masyarakat yang berbagai latar belakang
berbeda
- · Menjelaskan
tentang sebuah proses dakwah
- · Menjadi
perantara komunikasi antar budaya
- · Menjadi
pengawas komunikasi antar budaya
Fungsi dakwah dalam komunikasi antar budaya untuk
mengajak kepada jalan Allah Swt dengan metode ilmiah, sehingga dapat memahami,
memprediksi, menjelaskan, dan mengontrol persoalan dakwah.
Bahwa menurut beliau komunikasi antar
budaya memiliki Fungsi sosial, diantaranya :
- 1. Sosialisasi
Nilai Sosialisasi nilai merupakan fungsi untuk mengajarkan dan mengenalkan
nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.
- 2. Menjembatani Dalam poses komunikasi antar
peibadi, termasuk komunikasi antar budaya, maka fungsi komunikasi yang
dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas
perbedaan diantara mereka. Fungsi menjembantani itu dapat terkontrol
melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan
perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama.
- 3. Pengawasan
Praktik komunikasi antar budaya diantara komunikator dan komunikan yang
berbeda kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses
komunikasi antar budaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan
perkembangan tentang lingkungan (Liliweri, 2011. 9). [1]
Dengan adanya ketiga fungsi komunikasi
antar budaya tersebut, komunikasi antar budaya dapat dijadikan sebagai ilmu
bantu dalam mengembangkan ilmu dakwah. Dalam hal ini yang dimaksud adalah 28 |
Masykurotus Syarifah – Budaya dan Kearifan Dakwah Dakwah Syu’ubiyah Qabailiyah
(dakwah antar suku, budaya dan bangsa), dimana Da’i dan mad’u berbeda suku dan
budaya dalam satu kesatuan bangsa atau pun berbeda bangsa (Enjang, 2009. 69).[2]
Tujuan studi dari komunikasi antar budaya menurut Litvin bersifat
kognitif dan afektif, yaitu untuk mempelajari keterampilan komunikasi yang
membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri (Mulayana,
1998. xi). Tentunya dengan terlebih dahulu kita
perluas dan perdalam pemahaman kita terhadap kebudayaan seseorang tersebut.
Dalam
dakwah anatar budaya memmiliki 3 metoder untuk berdakwah, antara lain :
- 1. Istinbati
: Suatu penalaran penjelasan dengan menggunakan Al Qur’an dan Assaunnah
- 2. Iqtibasi
: Suatu penalaran menjelaskan dengan cara meninjau produk para dakwah dari
sumber Al-Qur’an dan Assunnah, dan juga dari displin ilmu lain
- 3. Istiqro’i
: Suatu penalaran menjelaskan dengan menggunakan sebuah
prosedur
Aksiologi dakwah antar budaya
- · Memberi
wawasan dan mempertegas material
- · Membantu
dan mempermudah dakwah dalam lintas budaya
- · Memberi
acuan Amar Ma’ruf nahi Munkar
- · Memberi
kebenaran ayat dalam Firman Allah tentang keberagaman mahluk ciptaan-Nya
Peranan dakwah antar budaya akan selalu di hadapkan dengan variabel da’i dan
mad’u. Dalam dakwah antar budaya sangat perlu di perhatikan setap kata yang
ingin di kelurkan, apabila salah dalam memberikan kata yang salah sedikit saja
akan bisa berakibat besar dalam perpecahan
Peranan Dakwah
Dalam Komunikasi Antarbudaya
Peranan dakwah
sangatlah penting dalam membantu masyarakat menyelesaikan persoalan-persoalan
yang ada serta sebagai sarana penyampaian konsep, tujuan,
etika dan keyakinan khususnya berkaitan dengan keagamaan dan kebudayaan
itu sendiri. Selain itu, dakwah juga berperan sebagai penggagas yang
akan memperkuat asas atau dasar masyarakat sesuai tuntunan al-Qur’an dan Sunnah
Rasul, penggerak kepedulian individu terhadap lingkungan sosial, penyuluh yang
akan menjawab keraguan umat dalam menghadapi persoalan kehidupan, juga
sebagai perekat ukhuwah manusia terlebih masyarakat Indonesia yang
multikultural. Adapun peran para da’i dalam menyampaikan risalah
dakwah, yakni mendorong para ilmuan dan praktisi dakwah memberikan
pertimbangan dan acuan untuk menyeleksi dakwah yang ma'ruf dan mungkar, mendorong
ilmuan dan praktisi dakwah serta umat Islam untuk memiliki sikap mental dan
perilaku yang arif dalam menghadapi dinamika dan keberagaman dakwah, memberikan
kebenaran ayat-ayat yang teramati dalam kenyataan empiris keberagaman budaya
dengan ayat-ayat dalam firman Allah tentang keberagaman makhluk sebagai
ciptaan-Nya.
[1] Liliweri,
Alo. 2011. Dasar-dasat komunikasi antar budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
[2] Enjang,
Aliyudin. 2009. Dasar-dasar ilmu dakwah. Bandung : Widya Padjadjaran
IV.
Dakwah dalam Komunikasi antar etnik, ras dan bangsa

Berkmonikasi antar budaya
dalam dakwah merupakan tantangan tersendiri bagi pelaku pendakwah, berdakawah
antar budaya pasti memliki berbagai macam tantangan karena dalam komunkasi
harus berhadapan dengan Etnik Ras dan Bangsa yang masing masing mempunyai sensivitas
tinggi. Oleh karena dalam Komunikasi antar budaya ada macam macam komunikasi
untuk menghadapi budaya. Hakikat komunikasi itu sendiri merupakan proses
pernyataan manusia, yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang
kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Nahh
sedangkan komunikasi budaya yakni merpakan proses komunikasi antar budaya yang
di latari budaya berbeda, yang keberhasilan komunikasi ini tidak lepas dari
unsur dalam komunikasi
Dalam berdakwah antar budaya membutuhkan banyak
sekali yang namaya metode. Karena dengan metode yang tepat proses dakwah antar
budaya dan komunikasi antar budaya bisa menemui keberhasilan. Di dalam
Al-Qur’an surat An Nahl 125 ada 3 metode yang di ajarkan :
1. dengan metode Hikamah
2. Mauidhohasanah
3. Berdebat dengan baik
Dengan pengajaran dakwah yang tepat pula proses
komunikasi dengan antar budaya akan mudah. Semua keragaman budaya akan
terselesaikan dengan mudah karena metode tersebut bersifat unversal.
Dalam sebuah metode pengajaran tidak lepas dari yang namanya bentuk komunikasi.
Nahh dalam bentuk komunkasi tersebut banyak sekali antar lain :
1. Bentuk Komunikasi
Pribadi : komunikasi probadi atau biasa kita sebut dengan
interpesonal. komunikasi ini berlangsung secara dialogis antara dua orang atau
lebih. Karakteristik komunikasi antar pribadi yaitu: pertama dimulai dari diri
sendiri
V.
Dakwah Dalam kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya
Kebudayaan yang dimiliki oleh suku, etnis, dan agama turut mempengaruhi
gaya komunikasi sehingga perbedaan budaya dapat menjadi sebuah rintangan dalam
berinteraksi satu sama lain. Sebagaimana dikemukakan Cangara (2008: h.156)
bahwa terdapat rintangan budaya yang menjadi gangguan dalam berkomunikasi
dimana rintangan budaya yang dimaksud adalah rintangan yang terjadi disebabkan
adanya perbedaan norma, kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh pihak-pihak
yang terlibat dalam berkomunikasi. Dalam pola komunikasi intas budaya kita akan
menenmui berbagai pola komunikasi baik prinsip, ruang lingkup, hingga model
komunikasi lintas budaya. Jika kajian pola komunikasi lintas budaya di kaitkan
dengan dakwah akan menghasilakn dakwah yang profesional dan fleksibel.
Dalam
komunikasi lintas budaya kita perlu mengetahui prinsip prinsip nya, antara lain
:
1. Revalitas bahasa.
Bahasa yang di gunakan dapat membantu menstrkturkan apa yang kita lihat dan
bagaimana kita melihatnya. Dalam dunia dakwah, mengetahui serta faham terhadap
kondisi mad’u sangatlah penting karena jika tidak melihas kondisi mad’u baik
itu dari budaya sama atau pun beda akan menimbulkan pemahaman yang berbeda.
2. Bahasa sebagai
cermin. Dakwah baik penceramah maupun mad’u haris peka terhadap hambatan
komunikasi
3. Mengurangi ketidak
pastian
4. Kesadaran diri
akan keperbedaan budaya
5. Interaksi awal dan
perbedaan budaya
6. Memaksimalkan
interkasi
Dalam hal ini kegiatan dakwah bisa
melihat komunikasi antar budaya yang berbagai macam bentuk nya. Dengan kegiatan
dakwah dalam pola komunikasi antar budaya dapat lebih memaksimalkan.
Kajian
kegiatan dakwah lintas budaya perlu di barengi dengan keilmu keilmuan lainnya
seperti keilmuan Sosiologi dakwah yang perlu di pedomani. Selain itu kita juga
memerlukan psikologi linats budaya yang dimana di dalamnya membahsa tentang
manusia, kultur, dan bagaimana keduanya. Psikologi itu sendiri merupakan
kumpulan keyakinan populer, secara ilmiah psikologi berasal dari obeserbasi,
pengukuran, dan evaluasi atas berbagai fenomena psikologis.
Dalam
psikoogi antar budaya terdapat 2 kultur yakni kultur tradisional dan kultur non
tradisional. Selain itu psikologi anatr budaya terdapat Individualisme dan
kolektivisme. Dan terdapat juga independensi dan interpendensi.
Setelah
mengetahui psikologi dakwah selanutnya masuk ke dakwah sendiri. Tidak ada yang
namanya profesi dakwah yang ada semuan manusia itu sendiri bertablig. dalam
dakwah mengajak keyakinan yang benar.pola komunikasi antar budaya banyak sekali
bentuk nya. Jadi dakwah dalam pola komunikasi antar budaya itu mengajak dan
membersihkan orang lain. ibarat seperti ada kucing terpolsok kedalam parit.
Sebagai seorang da’i atau orang yang mengajak tidak mungkin hanya memerintahkan
kucing untuk naik begitu saja, mengajak tanpa ada aksi pasti kucing tidak
faham. Akan tetapi sebagai da’i yang sebeanrnya masuk kedalam parit lalu
menolong kucing tersebut yang benar. Berkorban kotor sedikit tapi berhasil
menolong kucing. Seperti itulah perumpamaan orang berdakwah. Dalam
komunikasi antar budaya tidak hanya mengajak dengan tutur kata saja akan tetapi
di imbangi dengan action atau prilaku menolong dalam linatas budaya.
VI.
Mengenal Unsur-Unsur
Komunikasi Lintas Budaya Dalam Berdakwah
Unsur-Unsur
Komunikasi Lintas Budaya Dalam Berdakwah
Komunikasi adalah hubungan kontak antar dan
antara individu maupun kelompok dengan tujuan memberikan dan/atau menerima
informasi. Chaley H.Dood (1991:5) mengungkapkan komunikasi antarbudaya meliputi
komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi,
antarpribadi atau kelompok dengan tekanan pada perbedaan latar belakang
kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta (1991). [1].
Begitu juga dengan hal berdakwah anatar budaya, para da’i akan mudah dalam
memahi proses situasi dalam berdakwah berbeda budaya jika da’i mengetahui Unsur
Unsur Komunikasi Lintas Budaya. karena proses berdakwah berlangsung dalam
konteks sosial yang hidup, berkembang dan bahkan berubah-ubah setiap waktu,
situasi dan kondisi tertentu. Oleh Karena proses komunikasi yang dilakukan
merupakan dinamisator atau “penghidup” bagi proses komunikasi tersebut. Oleh
karen itu penting untuk mengetahui unsur-unsur komunikasi lintas budaya
Foto from
Google
Unsur unsur
komunikasi [2]
a.
Komunikator
Komunikator dalam komunikasi antar budaya
adalah pihak yang memperkasai komunikasi , artinya dia mengawali pengiriman
pesan tertentu kepada pihak lain yang disebut komunikan. Dalam komunikasi
antarbudaya seorang komunikator berasal dari latar belakang kebudayaan tertentu,
misalnya kebudayaan A berbeda dengan komunikan yang berkebudayaan B.
b.
Komunikan
Komunikan
dalam komunikasi antarbudaya adalah pihak yang menerima pesan tertentu. Dia
menjadi tujuan/ sasaran komunikasi dari pihak lain (komunikator). Dalam
komunikasi antarbudaya, seorang komunikan berasal dari latar belakang sebuah
kebudayaan tertentu, misalnya kebudayaan B.
c. Pesan
Pesan
adalah apa yang ditekankan atau yang dialihkan oleh komunikator kepada
komunikan. Setiap pesan sekurang-kurangnya mempunyai dua aspek utama. Content
dan Treatment, yaitu isi dan perlakuan. Isi pesan meliputi aspek daya tarik
pesan, misalnya kebaruan, kontroversi,argumentatif, rasional bahkan
emosional.dan daya tarik pesan saja tidak cukup, akan tetapi sebuah pesan juga
perlu mendapatkan perlakuan, perlakuan atas pesan berkaitan dengan penjelasan
atau penataan isi pesan oleh komunikator.
d. Media
Dalam proses komunikasi antarbudaya, media merupakan tempat, saluran yang
dilalui oleh pesan atau simbol yang dikirim melalui media tertulis dan 16 Ibid,
hal 25-31 media massa. Akan tetapi kadang-kadang pesan itu dikirim tidak
melalui media, terutama dalam komunikasi antar budaya tatap muka.
e. Efek dan umpan balik Manusia
mengkomunikasikan pesan karena dia mengharapkan agar tujuan dan fungsi
komunikasi itu tercapai. Tujuan dan fungsi komunikasi, termasuk komunikasi
antarbudaya, antara lain memberikan informasi, menjelaskan/meguraikan tentang
sesuatu, memberikan hiburan, memaksakan pendapat atau mengubah sikap komunikan.
Dalam proses tersebut umumnya menghendaki reaksi balikan yang disebut umpan
balik. Umpan balik merupakan tanggapan balik dari komunikan kepada komunikator
atas pesanpesan yang telah disampaikan. Tanpa umpan balik atas pesan-pesan
dalam komunikasi antarbudaya maka komunikator dan komunikan tidak bisa memahami
ide, pikiran dan perasaan yang terkadang dalam pesan terkandung dalam pesan
tersebut.
f. Suasana
(Setting dan Context) Satu faktor penting dalam komunikasi antarbudaya adalah
suasana yang kadang-kadang disebut setting of communication, yakni tempat
(ruang,space) dan waktu (time) serta suasana (sosial/psikologis) ketika
komunikasi antar budaya berlangsung.
g. Gangguan
(Noise atau Interference ) Gangguan dalam komunikasi antarbudaya adalah segala
ssesuatu yang menjadi penghambat laju pesan yang ditukar antara komunikator
dengan komunikan, atau yang paling fatal adalah menguraikan makna pesan
antarbudaya. Gangguan menghambat komunikan menerima pesan dan sumber pesan.
Gangguan (noise) dikatakan ada dalam satu sistem komunikasi bila dalam membuat
pesan berbeda dengan pesan yang diterima.
Budaya
adalah hal-hal yang berkenaan dengan cara hidup manusia. Manusia belajar
berpikir, merasa, mempercayai, dan mengusahakan apa yang patut menurut
budayanya. Bahasa persahabatan, kebiasaan makan, praktik komunikasi,
tindakan-tindakan social, kegiatan ekonomi, politik dan tekhnologi, semua itu
berdasarkan pola-pola budaya[3] dua orang yang berbeda latar belakang
kebudayaan karena itu memilki perbedaan kepribadian dan persepsi mereka
terhadap relasi antarpribadi. Ketika A dengan B bercakap-cakap itulah yang
disebut komunikasi antarbudaya karena dua pihak “ menerima” perbedaan diantara
mereka sehingga bermanfaat untuk menurunkan ketidakpastian dan kecemasan dalam
relasi antarpribadi. Menurunya tingkat ketidakpastian dan kecemasan dalam
relasi antarpribadi. Menurunnya tingkat ketidakpastian dan kecemasan dapa
menjadi motivasi bagi strategi komunikasi yang bersifat akomodatif . strategi
tersebut juga dihasilkan oleh karena terbentuknya sebuah “kebudayaan “ baru (C)
yang secara psikologis menyenangkan kedua orang itu. Hasilnya adalah komunikasi
yang bersifat adaptif yakni A dan B saling menyesuaikan diri akibatnya
menghasilkan komunikasi antarpribadi- antarbudaya yang efektif
video :
https://www.youtube.com/watch?v=SdAbLsr95P0
Refrensi
Alo
Liliweri. Makna Budaya dalam Komuinikasi Antarbudaya. ( Yogyakarta: PT LKIS
Printing Cemerlang, 2009)
Alo
Liliweri.Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya. ( Yogyakarta:Pustaka Pelajar,
2003)
Ahmad
Sihabudin. Komunikasi Antar Budaya satu perspektif multidimensi, (Jakarta : PT
Bum Aksara, 2013).
[1] Alo
Liliweri. Makna Budaya dalam Komuinikasi Antarbudaya. ( Yogyakarta: PT LKIS
Printing Cmerlang, 2009), hal 12
[2] Alo
Liliweri.Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya. ( Yogyakarta:Pustaka Pelajar,
2003),Hal.24
[3] Ahmad
Sihabudin. Komunikasi Antar Budaya satu perspektif multidimensi, (Jakarta : PT
Bumi Aksara, 2013). h.19
Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu
ad-Dakwah.
Manusia diciptiakan secara berpasang
pasangan. Manusia ataupun mahluk hidup secara garis besar meruapakn mahluk
sosial yang harus berinterasksi. Mahluk hidup yang hi
dup sendiri akan sulit menjalaknkan nya. Apalagi di tambah dengan perkembangan
zaman yang begitu pesat. Dalam perdakwahan rasanya akan sulit untuk tidak
berkomunikasi, justru dalam dakwah kita harus banyak banyak untuk berkomunikasi
menyampaikan sebuah pesan agar tersampaikan. Untuk mengetahui lebih
dalam perlu lah kita mengetahui aktivitas komunikasi secara mendalam
baik verbal maupun non verbal.
Pengertian aktivitas Komunikasi
Segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik
fisik maupun nonfisik, merupakan suatu aktivitas. Aktivitas adalah suatu
kegiatan atau perbuatan yang dilakukan oleh seseorang yang mengandung maksud
tertentu yang memang dia melakukanya sesuai kehendak yang diinginkan. Pendapat
Rosalia (2005) yang dikutip oleh Pamungkas (2013) mengatakan bahwa aktivitas
adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani.[1]
Menurut Ahmadi (1999), aktivitas komunikasi dipengaruhi faktor intern
dan ekstern. Faktor intern atau faktor personal merupakan faktor yang berpusat
pada personal, berupa sikap, instink, kepribadian, Faktor intern dibagi ke
dalam dua kelompok, yaitu faktor biologis dan faktor sosio psikologis. Faktor
biologis terlibat dalam seluruh aktivitas manusia dan berpadu dengan faktor
sosio psikologis[2].
Faktor biologis sangat mempengaruhi berlangsungnya komunikasi, misalnya
kesiapan untuk melihat-membaca yang berhubungan dengan indera penglihatan,
kesiapan untuk mendengarkan suara yang berhubungan dengan indera pendengaran.
Maka dapat dikatakan Aktivitas komunikasi dalam dakwah yakni
mempengaruhi bagaimana agar mad’u dapat menerima pesan pesan ajakan untuk
menuju kebaikan yakni Adinul Islam agama Islam. Tidak di pungkir bahwa dalam
aktivisa komunikasi dakwah sangat berkaitan erat
VII.
Komunikasi Verbal dan non Verbal
Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal (verbal
communication) adalah bentuk komunikasi yang disampaikan komunikator kepada
komunikan dengan cara tertulis (written) atau lisan (oral). Komunikasi verbal
menempati porsi besar. Karena kenyataannya, ide-ide, pemikiran atau keputusan,
lebih mudah disampaikan secara verbal ketimbang nonverbal. Dengan harapan,
komunikan (baik pendengar maun pembaca) bisa lebih mudah memahami pesan-pesan
yang disampaikan, contoh : komunikasi verbal melalui lisan dapat dilakukan
dengan menggunakan media, contoh seseorang yang bercakap-cakap melalui telepon.
Sedangkan komunikasi verbal melalui tulisan dilakukan dengan secara tidak
langsung antara komunikator dengan komunikan. Proses penyampaian informasi
dilakukan dengan mengguna- kan berupa media surat, lukisan, gambar, grafik dan
lain-lain.[3]
Dalam hal ini komunikasi verbal dalam dunia dakwah seperti pengajian
yang dimana dakwahnya menggunakan metode pengajian serta dakwah dalam bentuk
poster atau dakwah lain lainnya. Dalam hal ini dakwha cocok menggunakan metode
Bil Mauidho Khasanah dan dan bebat secara baik.
Komunikasi Non verbal
Komunikasi Non verbal bisa diartikan sebagai
tindakan-tindakan manusia yang secara sengaja dikirimkan dan diinterpretasikan
seperti tujuannya dan memiliki potensi akan adanya umpan balik (feed back) dari
penerimanya.Dalam arti lain, setiap bentuk komunikasi tanpa menggunakan
lambang-lambang verbal seperti kata-kata, baik dalam bentuk percakapan maupun
tulisan. Komunikasi non verbal dapat berupa lambang-lambang seperti gesture,
warna, mimik wajah dll.[4]
Ketika komunikasi non verba dikaitkan dengan dakwah maka bentuk
komunikasi nya adalah berupa hikmah, mengapa demikian karena dalam
dakwah metode Bil Hikmah yakni memberi pelajaran pelajaran seecra tidak
langsung bisa berupa dengan praktik serta aktivitas langsung. Atau hal hal baik
yang sering kita lakukan bisa jiga dikatakan dengan dakwah bil Hikmah
[1] Rosalia
Feni, (2010) Komunikasi Lintas Budaya antara Suku Lampung dan Jawa di Kelurahan
Jagabata I dan Perumnas Wayhalim Kota Bandar dan Lampung (repository.ipb.ac.id)
[2] Rkhmat,
Jalaludin. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.Rosdakarya
[3] Tri
Indah Kusumawati: Komunikasi Verbal dan Non Verbal. Vol 6. 2016
[4] Ibid.
VIII.
Hambatan Komunikasi Lintas
Budaya Dalam Dakwah Multikultural Moderen.
Proses
Komunikasi tidak lepsa dari yang namanya sebuah hambatan, begitu pula dengan ko
munikasi lintas budaya. Terlebih lagi dengan adanya globalisasi di era zaman
sekarang yang mualai meningkat menjadikan hambatan tidak hanya sepintas.
Sebelum mengetahui lebih lanjut perlu untuk mengetahui pengertian dari hambatan
itu sendiri Hambatan komunikasi atau yang juga dikenal sebagai communication
barrier adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya
komunikasi yang efektif.
Hambatan dapat di artikan sebagai halangan atau rintangan yang di
alami secraa garis besar memenag hambatan dalam proses komuniasi anatar budaya
itu seperti salah satunya noise saat berkomunikasi karena erbedaan bahasa,
namaun kenyataanya ada hal hal lain juga yng meng hambat proses komunikasi
antar budaya.
Hambatn hambatan komunikasi tersebut
anata lain :
- Rasilialisme : Prilaku ini adanya perbedaan
anata kita dan kelompok secara kulutural
- Stereotyping : Prilaku yang dpaat menjebak
dalam sebuah asumsi bahwa semua orang yang ada dilama satu kelompok itu
sama padahal dalam satu kelompok tersebut berbeda
- Persepsi : Persepsi sangat mempengaruhi sebuah
makna dari suatu pesan. Norma dan niali kebudayaan : Nilai dapt bersifat
eksplisit atau implisit dan dapat di peganga atau dilihat secara individul
sebagai bagian dari pola atau sistem budaya
- Ethnocentrism : beranggapan dan menialai bahwa
dalam sebuah perbedaan di anggap negatif
- Cultur Shock : kejutan timbul karea perasaan
terasing, menonjol dan beberapa dari yag lain Adapun hambatan-hambatan
akan terlaksananya transformasi multikulutural dicirikan sebagai berikut :
1. Fisik (Physical).
Hambatan komunikasi ini berasal dari
hambatan waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik.
2. Budaya (Cultural). Hambatan
ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada
antara budaya yang satu dengan yang lainnya.
. Persepsi (Perceptual). Jenis
hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi (sudut pandang)
yang berbeda-beda mengenai suatu hal sehingga setiap budaya akan mempunyai
pemikiran yang berbeda-beda untuk mengartika sesuatu
4. Motivasi (Motivational). Habatan ini
berkitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya apakah pendengar
yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tidak
mau menerimanya.
5. Pengalaman (Experiental).
Suatu jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki
pengalaman hidup yang sma sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan
konsep yang berbeda-beda dalam meliahat sesuatu.
6. Emosi (Emotional). Hal ini
berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi
pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar
dan sulit untuk dilalui.
7. Bahasa (Linguistic). Hambatan
komunikasi akan terjadi apabila pengirim pesan (sender) dan penerima pesan
(receive) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak
dimengerti oleh penerima pesan.
8. Non-Verbal. Komunikasi yang
tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi. Ekspresi
wajah cukup menentukan ketika orang mau berbicara dengan orang lain. Ketika
seseorang sedan dalam keadaan marah maka ekspresi akan menghalangi orang lain
berbicara kepadanya.
9. Kompetisi (Competition).
Hambatan terjadi ketika penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sembil
mendengar yang sedang bermain catur sambil menerima telefon maka pemain catur
dalam mendengarkan pesan dari penelfon tidak akan maksimal
Refrensi
[1] Chaney, Lilian,Martin, Jeanette
& Martin. Intercultural Business Communication. (New Jersey: Pearson
Education, Inc, Upper Saddle River, 2004), 11 dalam Jurnal E-Komunikasi, ed.
Alvin Sanjaya, (Surabaya, UKP Surabaya, tt), 254
[1] Badudu zain 1994
[1] Ismail Nawawi Uha, Komunikasi Lintas Budaya: Teori, Aplikasi
dan Kasus Sosial Bisnis dan Pembangunan (Jakarta Barat: Dwiputra Pustaka Jaya,
2012), 11-12
IX.
Budaya dan Kearifan Dakwah
1. Budaya Dakwah
Kehadiran
Islam di tengah-tengah kehidupan manusia di muka bumi tidak
untuk menjadi
tandingan dari budaya yang telah berkembang di masyarakat, justru
ingin menjadikan
nilai-nilai budaya yang merupakan kearifan lokal tersebut sebagai
salah satu instrumen
dakwah.
Namun, harus diakui terdapat sebagian umat Islam yang kurang tepat
memposisikan
keberadaan budaya itu sendiri. Mereka beranggapan bahwa budaya
tidak perlu
dipertahankan karena tidak berasal dari Al-Quran dan hadis. Padahal
tidak selamanya
sesuatu secara eksplisit yang tidak berdasar Al-Quran dan hadis
adalah tidak benar,
sehingga harus ditinggalkan. Akan tetapi Rasulullah SAW.
pernah mengingatkan
“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu” (HR. MUslim).
Budaya
adalah gaya hidup yang unik suatu kelompok manusia tertentu.
Budaya bukanlah
sesuatu yang dimiliki sebagian orang dan tidak dimiliki
sebagian yang
lainnya. Budaya dimiliki oleh seluruh manusia dan sebagai faktor
pemersatu.
Budaya merupakan pengetahuan yang dapat dikomunikasikan sifat-sifat,
perilaku dan
dipelajari yang juga ada pada anggota-anggota suatu kelompok
sosial lainnya.
Jika
di kaitkan dengan pengertian dakwah yang memiliki arti Kata “dakwah” secara
bahasa (etimologi) berarti ajakan, seruan, panggilan dan do’a. Sedangkan secara
istilah (terminology), sebagaimana yang didefinisikan Saifudin Azhari, dakwah
adalah segala aktivitas yang mengubah suatu situasi lain yang lebih baik
menurut ajaran Islam. Dengan kata lain, dakwah adalah usaha meneruskan dan
menyampaikan kepada perorangan dan umat. Maka dari pengertian tersebut bisa di
tarik sebuh kesimpulan budaya dakwah merupakan sifat sifat atau karakteristik
dalam seruan, panggilan kebaikan yang sesuai ajaran Islam.
Keberadaan
budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang
berbeda dan karenanya
ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga
menentukan cara
berkomunikasi yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan
dan norma yang ada
pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam
setiap kegiatan
komunikasi dengan orang lain selalu mengandung potensi
komunikasi lintas
budaya atau antar budaya, karena akan selalu berada pada
“budaya” yang berbeda
dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu.[1]
2. Kearifan Dakwah
Kearifan
lokal adalah identitas atau kepribadian budaya sebuah bangsa yang menyebabkan
bangsa tersebut mampu menyerap, bahkan mengolah kebudayaan yang berasal dari
luar/bangsa lai menjadi watak dan kemampuan sendiri Wibowo (2015:17)[2].
Identitas dan Kepribadian tersebut tentunya menyesuaikan dengan pandangan hidup
masyarakat sekitar agar tidak terjadi pergesaran nilai-nilai. Kearifan lokal
adalah salah satu sarana dalam mengolah kebudayaan dan mempertahankan diri dari
kebudayaan asing yang tidak baik.
Aspek kearifan. menekankan tentang dakwah Islamiyah yang berorientasi
kearifan. Implementasi kearifan dapat berupa bijak dalam menentukan hukum fikih
yang sesuai dengan konteks, mempermudah sebelum mempersulit, bersikap tidak
kontra-produktif dalam hubungannya dengan pemerintah dalam pembangunan, dan
lainnya. Dakwah berbasis kearifan inilah, selanjutnya, mentransformasi seorang
Da’i menjadi lebih moderat (al-wasat}iyyah) dalam berdakwah.
[1]Masykurotus
Syarifah, Budaya dan Karifan Dakwah, Jurnal Al-Balagh, Vol. 5 1, No. 1,
Januari-Juni 2016,
hal. 28-30.
[2] Wibowo,dkk (2015). Pendidikan Karakter berbasis kearifan lokal disekolah (konsep,strategi, dan implementasi). Yogyakarta:Pustaka Pelajar









Komentar
Posting Komentar