Budaya dan Kearifan Dakwah

 

Nama : Muhammad Nasrul Hidayat
NIM B01219034
KPI A2


Budaya takbir keliling


Budaya dan Kearifan Dakwah

1. Budaya Dakwah

            Kehadiran Islam di tengah-tengah kehidupan manusia di muka bumi tidak

untuk menjadi tandingan dari budaya yang telah berkembang di masyarakat, justru

ingin menjadikan nilai-nilai budaya yang merupakan kearifan lokal tersebut sebagai

salah satu instrumen dakwah.

Namun, harus diakui terdapat sebagian umat Islam yang kurang tepat

memposisikan keberadaan budaya itu sendiri. Mereka beranggapan bahwa budaya

tidak perlu dipertahankan karena tidak berasal dari Al-Quran dan hadis. Padahal

tidak selamanya sesuatu secara eksplisit yang tidak berdasar Al-Quran dan hadis

adalah tidak benar, sehingga harus ditinggalkan. Akan tetapi Rasulullah SAW.

pernah mengingatkan “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu” (HR. MUslim).

            Budaya adalah gaya hidup yang unik suatu kelompok manusia tertentu.

Budaya bukanlah sesuatu yang dimiliki sebagian orang dan tidak dimiliki

sebagian yang lainnya. Budaya dimiliki oleh seluruh manusia dan sebagai faktor

pemersatu.

Budaya merupakan pengetahuan yang dapat dikomunikasikan sifat-sifat,

perilaku dan dipelajari yang juga ada pada anggota-anggota suatu kelompok

sosial lainnya.

            Jika di kaitkan dengan pengertian dakwah yang memiliki arti Kata “dakwah” secara bahasa (etimologi) berarti ajakan, seruan, panggilan dan do’a. Sedangkan secara istilah (terminology), sebagaimana yang didefinisikan Saifudin Azhari, dakwah adalah segala aktivitas yang mengubah suatu situasi lain yang lebih baik menurut ajaran Islam. Dengan kata lain, dakwah adalah usaha meneruskan dan menyampaikan kepada perorangan dan umat. Maka dari pengertian tersebut bisa di tarik sebuh kesimpulan budaya dakwah merupakan sifat sifat atau karakteristik dalam seruan, panggilan kebaikan yang sesuai ajaran Islam.

            Keberadaan budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang

berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga


menentukan cara berkomunikasi yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan

dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam

setiap kegiatan komunikasi dengan orang lain selalu mengandung potensi

komunikasi lintas budaya atau antar budaya, karena akan selalu berada pada

“budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu.[1]

 

2. Kearifan Dakwah

            Kearifan lokal adalah identitas atau kepribadian budaya sebuah bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap, bahkan mengolah kebudayaan yang berasal dari luar/bangsa lai menjadi watak dan kemampuan sendiri Wibowo (2015:17)[2]. Identitas dan Kepribadian tersebut tentunya menyesuaikan dengan pandangan hidup masyarakat sekitar agar tidak terjadi pergesaran nilai-nilai. Kearifan lokal adalah salah satu sarana dalam mengolah kebudayaan dan mempertahankan diri dari kebudayaan asing yang tidak baik.

Aspek kearifan. menekankan tentang dakwah Islamiyah yang berorientasi kearifan. Implementasi kearifan dapat berupa bijak dalam menentukan hukum fikih yang sesuai dengan konteks, mempermudah sebelum mempersulit, bersikap tidak kontra-produktif dalam hubungannya dengan pemerintah dalam pembangunan, dan lainnya. Dakwah berbasis kearifan inilah, selanjutnya, mentransformasi seorang Da’i menjadi lebih moderat (al-wasat}iyyah) dalam berdakwah.



[1]Masykurotus Syarifah, Budaya dan Karifan Dakwah, Jurnal Al-Balagh, Vol. 5 1, No. 1, Januari-Juni 2016,

hal. 28-30.

[2] Wibowo,dkk (2015). Pendidikan Karakter berbasis kearifan lokal disekolah (konsep,strategi, dan implementasi). Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Komentar