NAMA : Muhammad Nasrul Hidayat
NIM : B01219034
PRODI : Komunikasi penyiaran Islam
Mata Kuliah : Soiologi
Buku utama
PROSES SOSIOLOGI DAN INTERAKSI SOSIOLOGI
Abstrak
Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila
orang-perorangan dan kelompok-kelompok
sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentu- bentuk hubungan
tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan- perubahan yang menyebabkan
goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada. Proses sosial dapat diartikan
sebagai pengaruh timbal-balik antara berbagai segi kehidupan bersama, misalnya
pengaruh-mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi,
ekonomi dengan hukum. Interaksi sosial
adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan
kelompok dan antara kelompok dengan kelompok.
Interaksi sosial merupakan proses komunikasi diantara orang-orang untuk
saling mempengaruhi perasaan, pikiran dan tindakan. Interaksi sosial akan
berlangsung apabila seorang individu melakukan tindakan dan dari tindakan
tersebut menimbulkan reaksi individu yang lain. Interaksi sosial terjadi jika
dua orang atau lebih saling berhadapan, bekerja sama, berbicara, berjabat
tangan atau bahkan terjadi persaingan dan pertikaian.
Interaksi
sosial merupakan hubungan tersusun dalam bentuk tindakan berdasarkan norma dan
nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Dan disinilah dapat kita amati atau
rasakan bahwa apabila sesuai dengan norma dan nilai dalam masyarakat, interaksi
tersebut akan berlangsung secara baik, begitu pula sebaliknya, manakala
interaksi sosial yang dilakukan tidak sesuai dengan norma dan nilai dalam
masyarakat, interaksi yang terjadi kurang berlangsung dengan baik.
ISI
Interaksi berasal dari kata inter dan aksi.
Aksi (action) yang dimaksud adalah tindakan. Tindakan oleh Max Weber diartikan
sebagai perilaku yang mempunyai makna subjektif bagi pelakunya (the subjective
meaning of action). Maksudnya adalah bahwa makna yang sebenarnya dari suatu
tindakan hanya diketahui dengan benar oleh pelakunya (aktor) sendiri. Misalnya
si A, seorang pemuda, menyanyi di kamar mandi. Apa makna tindakan A tersebut,
apakah sekedar iseng, belajar bernyanyi ataukah agar didengar oleh si B gadis
tetangga yang kepadanya si A menaruh perhatian? Orang lain, bapaknya, ibunya,
kakaknya, adiknya atau tetangga si pemuda A tadi dapat memberikan penafsirannya
masing-masing berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya yang saling berbeda
atas tindakan si A. Tetapi makna yang sebenarnya dari tindakan tadi benar-benar
hanya diketahui oleh si A.
Pernyataan seorang ahli sosiologi bernama
Peter L. Berger bahwa dalam hidup ini kenyataan yang sering dihadapi adalah
bahwa “things are not what they seem”, bahwa
segala sesuatu sering tidak seperti yang
terlihat, kiranya dapat lebih menjelaskan apa yang dimaksud oleh Max Weber.
Apabila dilihat dari orientasinya, tindakan
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a. Tindakan
non-sosial, yakni tindakan-tindakan yang dilakukan oleh seseorang tetapi tidak
diorientasikan kepada pihak lain. Sebagai contoh: seseorang yang sedang
memandangi potret dirinya atau seseorang berdiam diri di kamar pribadinya
sambil merenungi nasibnya.
b. Tindakan
sosial, yakni tindakan-tindakan yang oleh pelakunya diorientasikan kepada pihak
lain. Sebagai contoh: seseorang menyapa teman yang lewat di depan rumahnya atau
seorang murid berbicara dengan gurunya. Dilihat dari tekanannya tentang cara
dan tujuan tindakan itu dilakukan, dapat dibedakan menjadi empat macam
tindakan, yaitu:
1) tindakan
rasional-instrumental; yakni tindakan yang dilakukan dengan memperhitungkan
kesesuaian antara cara dan tujuan; dalam hal ini actor memperhitungkan
efisiensi dan efektivitas dari sejumlah pilihan tindakan. Contoh: tindakan
memilih program atau jurusan di SMU dengan mempertimbangkan bakat, minat dan
cita-cita, tindakan rajin belajar supaya lolos seleksi penerimaan mahasiswa
baru, bekerja keras untuk mendapatkan nafkah yang cukup, dan sebagainya.
2) Tindakan
berorientasi nilai; yakni tindakan-tindakan yang berkaitan dengan
nilai-nilai dasar dalam masyarakat,
sehingga aktor tidak lagi mempermasalahkan tujuan dari tindakan, yang menjadi
persoalan dan perhitungan aktor hanyaalah tentang cara. Contoh:
tindakan-tindakan yang bersifat religio-magis atau berdasarkan keyakinan agama
tertentu.
3) Tindakan
tradisional; merupakan tindakan yang tidak memperhitungkan pertimbangan
rasional. Tindakan ini dilaksanakan berdasarkan pertimbangan kebiaasaan dan
adat istiadat. Contohnya: berbagai macam upacara atau tradisi yang dimaksudkan
untuk melestarikan kebudayaan leluhur. Agak tidak mudah membedakan tindakan
tradisional dengan tindakan yang berorientasi nilai, karena dua tindakan ini
memang memiliki kesamaan, misalnya ketidakpeduliannya tentang tujuan dari
tindakan, orientasinya kepada caracara atau tahapan-tahapan yang harus dilalui,
dan sebuah tradisi biasanya dipertahankan oleh sebagian besar warga masyarakat
karena terkait dengan nilai tertentu. Namun, tetap dapat dibedakan yakni
orientasi suatu tindakan tradisional adalah pada bahwa cara tersebut dilakukan
menurut cara yang diwariskan oleh generasi terdahulu. Makna dari tindakan tidak
begitu dipermasahkan, sedangkan pada tindakan berorientasi nilai makna tindakan
sangat diperhatikan karena berkait dengan nilai yang dijunjung tinggi.
4) Tindakan
afektif; yakni tindakan-tindakan yang dilakukan oleh actor berdasarkan perasaan
(afeksi). Contohnya: tindakan mengamuk karena marah, meloncat-loncat kegirangan
karena perasaan senang yang berlebihan, tindakan menolak karena benci, jatuh
cinta, dan sebagainya.
Interaksi sosial dapat diberi pengertian
sebagai hubungan timbal-balik yang dinamis dan saling mempengaruhi yang terjadi
di antara individu atau kelompok
individu dalam masyarakat. Pola interaksi
sosial dapat berupa hubungan timbalbalik antara:
1) individu
dengan individu, misalnya dua orang teman yang sedang bercakap-cakap
2) individu
dengan kelompok, misalnya seorang guru yang sedang mengajar di kelas
3) kelompok
dengan kelompok, misalnya interaksi yang terjadi pada sebuah pertandingan
sepakbola.
Interaksi sosial dapat berlangsung apabila
terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1) Kontak
sosial, yaitu peristiwa terjadinya hubungan, sambungan atau sentuhansosial
(dapat disertai sentuhan jasmaniah maupun tidak) antara dua orang atau lebih.
2) Komunikasi,
yaitu proses penyampaian pesan atau informasi dari satu pihak (komunikator) ke
pihak lain (komunikan) dengan menggunakan symbol simbol. Simbol dapat berupa
kata-kata, suara, gerak isyarat, benda, dsb. Proses komunikasi dinyatakan berlangsung apabila
telah terjadi pemahaman yang sama atas simbol-simbol yang digunakan, baik oleh
komunikator maupun komunikan.
Kontak dan komunikasi dapat berlangsung
secara primer maupun sekunder. Yang dimaksud kontak atau komunikasi primer
adalah kontak atau komunikasi yang terjadi secara langsung berhadap-hadapan
atau tatap muka (face to face). Misalnya: dua orang atau lebih yang saling
bertemu dann berbicara dalam sebuah ruang pertemuan. Sedangkan kontak atau
komunikasi sekunder adalah kontak atau komunikasi yang terjadi dengan bantuan
alat-alat komunikasi seperti surat, telepon, e-mail, percakapan di internet,
dan seterusnya (sekunder langsung), maupun yang melalui bantuan pihak ketiga
(sekunder tidak langsung).
Terjadinya interaksi sosial dapat
digambarkan secara berurutan sebagai berikut:
1) ada
dua orang atau lebih
2) terjadi
kontak sosial di antaranya
3) terjadi
komunikasi
4) terjadi
reaksi atas komunikasi
5) akhirnya,
terjadi aksi timbal-balik (aksi-reaksi) yang saling mempengaruhi
Komentar
Posting Komentar